Cerita Rakyat

SELAMAT DATANG DI WISATA BENGKALIS
1. Ikan Terubuk

Alkisah, ikan terubuk adalah petinggi yang menguasai kerajaan laut hingga selat. Ia berambisi pula menguasai kerajaan air tawar. Caranya dengan menikahi ratu kerajaan air tawar bernama ikan puyu-puyu. Sang Raja pun mengerahkan bala tentara. Sayangnya saat menuju ke kerajaan air tawar, mereka terjerat jaring nelayan. Ambisi raja pun gagal total. Wikipedia menceritakan ke saya, ikan terubuk adalah hermafrodit proandri. Ia menjalani siklus hidup dalam waktu kurang dari dua tahun (18 bulan). Pada tahun pertama kehidupannya akan dilalui sebagai jantan (disebut pias) dan pada tahun kedua akan berganti kelamin menjadi betina (sebagai terubuk).


Di jagad raya ini ada lima spesies terubuk. Selain di Indonesia, ikan ini terdapat pula di Malaysia, India, Cina, Sungai Mekong. Kalau Anda berkesempatan ke Sarawak, ikan terubuk masin (salted terubok fish) bisa menjadi oleh-oleh. Terubuk banyak dicari untuk dimakan daging dan telurnya. Sekali-kali kalau kurang beruntung bisa tersangkut tulangnya juga, karena ikan pemakan plankton ini termasuk ikan banyak tulang.

Di Riau, terubuk ada di Bengkalis, daerah pemijahannya berada di sekitar Selat Bengkalis (dekat Pulau Padang dan Sungai Pakning) sehingga muara Sungai Siak. Karena ‘’rahim’’ penyimpanan larva-nya di Sungai Siak, maka ikan ini biasa berjalan dari Bengkalis ke Siak. Macam kita juga sering jalan-jalan dan belanja di Pekanbaru atau Melaka, sekalian pergi berobat dan anjangsana.

Hari ini, Bengkalis tidak hanya dikenal dengan terubuknya yang telah langka itu, tapi juga sejak otonomi daerah anggaran daerahnya meningkat tajam, bahkan termasuk deretan kabupaten/kota tertinggi anggarannya di Indonesia. Yang terbaru, setelah Meranti berpisah dari Bengkalis, terjadi kisruh penunjukan pimpinan lembaga legislatif. Biasalah, lembaga itu kan lembaga politik, syarat kepentingan. Buntutnya banyak sidang-sidang untuk membahas program pembangunan tak berjalan. Tapi syukurlah Jumat akhir pekan lalu, kisruh itu berakhir, karena pimpinannya telah ditetapkan melalui Surat Keputusan gubernur. Alhamdulillah!

Keberadaan legislatif, yudikatif dan eksekutif diharapkan akan mampu berjalan seiring, saling menguatkan, saling isi demi kesejahteraan rakyat. Itu idealnya. Sepatutnya berpikir dan bertindak ideal. Sebab Bengkalis yang keberadaannya berbatas dengan Selat Malaka, serta berbatas dengan hampir seluruh kabupaten/kota lain di Riau menunjukkan ia berada di geografis strategis. Batas itu adalah akses, akses merupakan aset.

Rasanya terlalu singkat waktu untuk mengoptimalkan berbagai potensi seperti perikanan, perternakan, pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perternakan, pertambangan dan pariwisata yang telah ada semula. Para pemegang teraju mesti berdulu-dulu dengan waktu. Kalau tidak, takut pula ‘’ikan puyu-puyu’’ datang menyerbu, mengambil kuasa yang disia-siakan terubuk yang hilang daya dan upaya. Berdulu-dululah dengan puyu-puyu ***

2. LEGENDA DEDAP DURHAKA (BENGKALIS)

LEGENDA DEDAP DURHAKA (BENGKALIS)

Mithos Mempelam Manis dan Masam yang terdapat di Kuala Sungai Dedap.
Lagenda turun temurun yang dipercaya tentang Dedap masih berlaku hingga saat ini. Dedap memang merupakan gugusan pulau kecil. Jika kita berlayar melintasi selat Bengkalis, pulau ini akan terlihat jelas. Pulau ini tidak ada penghuninya, menurut lagenda pulau ini terbentuk karena sumpah seorang ibu terhadap anaknya. Sang anak bernama Si Tanggang.

Konon, kehidupan keluarga Tanggang sangat miskin, ibu dan ayahnya hidup dari mencari kayu bakar. Sesudah dewasa si Tanggang pergi merantau. Ibu Tanggang bernama Urai, seperginya Tanggang, ibu sangat berharap berjumpa kembali dengan anaknya. Saban hari ia berdo’a untuk dipertemukan dengan Tanggang. Setelah sekian lama merantau, si tanggang berhasil, namun karena telah kaya, si tanggang lupa pada orang tuanya. ”Bak kacang lupekan kulit”.


Kemashuran Tanggang sampai dimana-mana. Pada suatu hari, Tanggang dengan kekayaanya melakukan pesiar keliling pulau. Tibalah sampai ke kampungnya. Di situ Ibunya berniat bertemu dengan Tanggang dan mencoba naik ke kapal untuk bersua langsung dengan Tanggang. Ketika ibunya hendak naik ke kapal, tanggang tak mengakuinya dan ibu tersebut di pukul oleh anak buah Tanggang. Karena rasa sakit hati, lalu ibunya mengeluarkan kata-kata kasar kepada si tanggang. “Kalau kau benar bukan anak aku, maka selamatlah engkau, dan kalau kamu benar anakku, maka musibahlah yang menimpamu” setelah mengucapkan itu, ibunya dan ayahnya lalu pergi meninggalkan kapal tersebut, menuju kuala sungai Dedap, namun ketika itu turunlah Topan dan badai, sehingga kapal si dedap karam.

Karena rasa kasihan, ibunya hendak berbalik, tapi ayahnya sudah terlalu sakit hati, sehingga mereka berlawanan, ibunya ingin kembali ke Tanggang sedangkan ayahnya tidak lagi mau menengok sitanggang lagi. Ada versi yang mengatakan, karena perlawanan itulah, perahu ibu se tanggang karam dan kedua-duanya mati tenggelam. Dan ada pula versi lain yang mengatakan bahwa kedua orang tua tersebut meninggal setelah si tanggang jadi pulau. Konon katanyam, setelah kedua orang tua tersebut meninggal maka tumbuhlah Mempelam Manis dan Masam. Mempelam manis dan masam ini menggambarkan dua sikap orang tua Tanggang, yang baik dan buruk. Mempelam Manis adalah Sikap Ibunya si tanggang yang sudah memaafkan anaknya sedangkan masam adalah sikap ayahanda Tanggang yang murka pada anaknya.

Menurut penuturan warga Dedap, Pak Dolah (72), cerita pulau Dedap yang masih dipercaya orang sampai saat ini terkait penghuninya, yang juga makhluk halus. Orang setempat menyebutnya dengan orang bunian. Konon, pula orang bunian ini banyak tinggal di kampung ini. Orang bunian ini tak tampak, tapi rumor-rumor yang terjadi membuat cerita tentang orang bunian ini sangat kuat. ”Dulu waktu banyak orang kampung ini bisa berbelanja kat Malaysia dan Singapure, mereka nyakap ada mesjid besar didirikan di Dedap, karena mereka pesan seng berkodi-kodi, tapi nyatanya kan tak ada bangunan besar disini, mungkin juga orang bunian yang pesan,” ujar warga kampung lain.
Sejak zaman dulu, ketika kampung ini dibuka memang ada perjanjian warga dengan orang bunian. Kata Dolah, dulu kampung ini dibuka oleh tujuh orang pengikut kerajaan Siak. Karena saat itu pemerintahannya zalim tujuh orang ini pergi meninggalkan kerajaan dan pergi ke pulau Dedap. Ketujuh orang tersebut membawa keahlian masing-masing, ada alim ulama, bomo, dan lain-lain.

Suatu hari, setelah sampai di kuala sungai Dedap ini mereka pun membuat kampung disini. Saat membuka hutan terlihatlah oleh mereka batang yang berduri halus dan berdaun lebar yang banyak tumbuh di tempat tersebut. Pohon itu diberi nama pohon dedap, maka dari itulah kampung tersebut diberi nama Kampung Dedap.
Salah satu dari tujuh penghuni baru kampung ini rupanya bisa melihat keberadaan orang bunian. Orang bunian tersebut menempati dua wilayah, wilayah darat dan laut. Ketika orang Banjar, datang ke kampung ini. Tujuh orang tersebut mewasiatkan menjaga orang bunian yang ada di kampung tersebut.

2 comments on “Cerita Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s